Senja kembali datang bertamu. Di tengah kerumunan, dapat kutemukan dengan jelas dirinya. Berdiri sendiri tanpa peduli seolah dunia hanya untuknya. Walau kaki terasa berat untuk melangkah, dan hati yang ingin meledak, ku kerahkan segenap jiwa untuk menyapanya. Tak ada senyum menyambut ketika tiba, hanya tatapan datar yang terlihat di wajahnya. sama seperti hari-hari biasa. Namun, tatapan matanya yang tajam, kembali berhasil merayu hati ketika manik beradu. Dan perasaan itu, perasaan itu hadir lagi. Mengusik ketenangan hati yang ingin sendiri. Tanpa sadar, kerap aku terlena dalam memandangi wajahnya. Melihatnya lekat-lekat, menantang kekuatan hati untuk bertahan. Hasilnya? tak pernah lebih dari sepuluh detik hatiku bertahan sebelum akhirnya ia berteriak pilu, penanda bahwa hati ini sudah tersihir oleh sinarnya. Hangat yang kurasa ketika dekat, berganti menjadi rindu ketika jauh. Rasanya ingin selalu bertemu, tapi apa daya, senja ditakdirkan untuk selalu pergi di akhir hari. Meningg...