Posts

To Whom It May Concern.

I have travelled all the miles, trying to find the missing files. There are blanks among the lines, questions I have with no replies. It is hard not to hear the crowd. In my head people are screaming out loud. Changing colors,  why am I acting all proud? Pointing fingers, saying 'You are a fraud.' Is it okay to think that I have gone crazy? Been trying to find answers, but none could please me. And I know you must be busy, yet only for this time, would you please hear me? --- A short letter to God.

Satu Ruang

Di rumahku ada satu pintu menuju banyak ruang. Ada ruang untuk ibu, ruang untuk kakak, untuk Tuhan, dan tersisa satu ruang lagi. Di sudut ruang itu ada kamu. Duduk, menunggu. Satu ruang itu hanya memiliki satu kursi tanpa meja, sesuai permintaanmu. Aku ingin membuatmu nyaman sehingga aku isi ruangan itu dengan barang-barang lain yang sekiranya kau suka. Tak kusadari, ruanganmu telah menjadi penuh. Kamu meronta-ronta kesesakan, dan aku, yang terlalu bersemangat untuk membuatmu nyaman, tak menghiraukan. Kamu berteriak. Aku tak dengar. Kamu berdarah. Aku tak lihat. Kamu berubah. Aku tak rasa. Satu hari, ku kunjungi ruangan itu. Penuh barang, tak aku lihat dirimu. Pergi. Kau telah pergi  Satu surat, aku temukan di kursimu. Satu kata, 'Terima Kasih.' untukku. Rumahku terasa sepi. Di sudut ruang itu, biasanya ada kamu. Menyanyikan lagu cinta untukku. Aku rindu. ---- An old writing of mine. Written during the time I was too focused giving all of myself and not rea...

Sebuah Kenyataan

Nyatanya, bagaimanapun mereka berkata bahwa jatuh cinta adalah hal yang sia dan ia tak seindah isunya, hati ini tetap terjaga ketika maniknya berjumpa.

Janubi dan Syamali.

Bagai bumi dengan dua kutubnya serupa, tapi tidaklah satu. Terpisahkan oleh laut liar, terkadang mereka dirundung pilu. Amarah berkecamuk ingar, menimbulkan gertakan sendu. Dan kita. Kita, yang sempat merasa seolah mereka sama, terpaksa menunda rasa. Dengan kata yang tersisa dan doa yang tak serupa, sebagai penanda bahwa kita berbeda. Bahwa Janubi dan Syamali, tak akan pernah bersama.

Tamu Tak Diundang

Senja kembali datang bertamu. Di tengah kerumunan, dapat kutemukan dengan jelas dirinya. Berdiri sendiri tanpa peduli seolah dunia hanya untuknya. Walau kaki terasa berat untuk melangkah, dan hati yang ingin meledak, ku kerahkan segenap jiwa untuk menyapanya. Tak ada senyum menyambut ketika tiba, hanya tatapan datar yang terlihat di wajahnya. sama seperti hari-hari biasa. Namun, tatapan matanya yang tajam, kembali berhasil merayu hati ketika manik beradu. Dan perasaan itu, perasaan itu hadir lagi. Mengusik ketenangan hati yang ingin sendiri. Tanpa sadar, kerap aku terlena dalam memandangi wajahnya. Melihatnya lekat-lekat, menantang kekuatan hati untuk bertahan. Hasilnya? tak pernah lebih dari sepuluh detik hatiku bertahan sebelum akhirnya ia berteriak pilu, penanda bahwa hati ini sudah tersihir oleh sinarnya. Hangat yang kurasa ketika dekat, berganti menjadi rindu ketika jauh. Rasanya ingin selalu bertemu, tapi apa daya, senja ditakdirkan untuk selalu pergi di akhir hari. Meningg...

Wednesday Thought

Falling in love is kind of like a form of socially acceptable insanity.